Investigasi Lapangan: Dugaan Jalur Masuk Barang Lewat Tanjung Uma Terus Beroperasi, Bea Cukai Batam Didesak Bongkar Jaringan Pengendalinya

BATAM – Aktivitas pengiriman berbagai kebutuhan pokok melalui kawasan pesisir Tanjung Uma, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, kembali menjadi sorotan. Sejumlah pihak meminta aparat penegak hukum, khususnya Bea Cukai Batam dan instansi terkait, untuk meningkatkan pengawasan terhadap jalur-jalur tidak resmi yang diduga masih digunakan sebagai akses keluar masuk barang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pergerakan barang di sejumlah titik pesisir Tanjung Uma terlihat berlangsung cukup aktif, terutama saat kondisi air laut pasang yang memungkinkan kapal-kapal berukuran kecil merapat dan melakukan bongkar muat dengan lebih mudah.

Dalam penelusuran yang dilakukan media ini, sejumlah sumber menyebut adanya sosok yang dikenal dengan nama “Toni Karimun” yang diduga memiliki peran dalam aktivitas pengiriman barang tersebut. Nama tersebut beberapa kali disebut oleh narasumber saat membahas jalur distribusi barang yang berasal dari luar daerah dan masuk melalui kawasan pesisir.

Selain itu, muncul pula nama berinisial LB yang disebut-sebut berperan dalam koordinasi lapangan. Menurut informasi yang beredar, LB diduga menjadi penghubung antara pihak pengirim, pengangkut, hingga penerima barang sehingga proses distribusi dapat berjalan lancar.

Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait yang membenarkan keterlibatan pihak-pihak yang disebutkan tersebut. Informasi ini masih berupa keterangan dari sejumlah sumber yang perlu diverifikasi lebih lanjut.

Pengawasan terhadap pelabuhan-pelabuhan tidak resmi atau yang kerap disebut sebagai “pelabuhan tikus” selama ini menjadi perhatian berbagai pihak. Jalur tersebut dinilai rawan dimanfaatkan untuk memasukkan barang tanpa melalui prosedur kepabeanan yang berlaku, sehingga berpotensi merugikan negara dari sisi penerimaan bea dan pajak.
Sejumlah warga yang ditemui di sekitar kawasan pesisir mengaku aktivitas kapal pengangkut barang bukanlah pemandangan baru. Mereka menyebut kegiatan bongkar muat biasanya meningkat pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika kondisi cuaca dan pasang laut mendukung.
Praktisi hukum dan pengamat kepabeanan menilai aparat perlu melakukan pemetaan menyeluruh terhadap titik-titik rawan penyelundupan di wilayah Batam. Selain patroli laut, pengawasan terhadap jaringan distribusi di darat juga dinilai penting guna mengungkap pihak-pihak yang diduga mengendalikan pergerakan barang dari hulu hingga hilir.
Masyarakat berharap Bea Cukai Batam bersama TNI AL, Polairud, Bakamla, dan aparat terkait dapat meningkatkan sinergi dalam melakukan pengawasan kawasan perairan yang selama ini dikenal memiliki banyak jalur alternatif. Langkah tersebut dianggap penting untuk memastikan seluruh aktivitas perdagangan berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Hingga berita ini dipublikasikan, media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang namanya disebut dalam informasi lapangan guna memperoleh klarifikasi dan keseimbangan pemberitaan. Apabila terdapat tanggapan atau hak jawab dari pihak terkait, media akan memuatnya pada pemberitaan berikutnya sesuai ketentuan jurnalistik yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *